Dewasa ini, HIV-AIDS telah dianggap sebagai salah satu pembunuh terkejam manusia. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah penderita maupun korban jiwa akibat HIV-AIDS. Berkenaan dengan hal tersebut,Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kian menggalakkan program-program yang bertajuk Penanggulangan terhadap HIV-AIDS. Hingga saat inipun masih menjadi PR bagi pemerintah untuk menekan angka penduduk yang terjangkit HIV-AIDS.
Di Kota Blitar, Hasil survey lapangan Dinas Kesehatan Kota Blitar menyatakan bahwa mulai awal tahun 2004 hingga tahun 2013 telah terdapat 55 kasus HIV-AIDS terhitung per september 2013. Dari 55 kasus tersebut, disebutkan bahwa 24 orang positif terjangkit HIV sedangkan 31 orang telah sampai pada status terjangkit AIDS. Dari sejumlah kasus tersebut, 24 diantaranya telah meninggal dunia.
Pada tahun 2013 sendiri, di Kota Blitar telah terdapat 10 kasus HIV-AIDS dan 50% diantaranya adalah Ibu Rumah Tangga. Dihitung per september 2013, prosentase gender yang terjangkit HIV-AIDS adalah seimbang sebab dari 55 kasus, 22 diantaranya adalah laki-laki sedangkan 23 lainnya adalah perempuan.
Banyaknya jumlah orang yang dinyatakan positif HIV pada tahun 2013 ini menjadi kerja keras para aparatur pemerintahan Kota Blitar sendiri khususnya Dinas Kesehatan untuk mencari akar dari segala kemungkinan terjadinya penularan juga upaya penanggulangannya. Salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah dengan bekerjasama dengan fasilitas-fasilitas Kesehatan baik kota maupun kabupaten dalam fungsi pemantauan. Sedangkan untuk upaya penanggulangan, Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai bentuk sosialisasi mengenai Bahaya HIV-AIDS dan beberapa waktu yang lalu Dinas Kesehatan merujuk RSD Mardi Waluyo untuk menyetujui usulan pengadaan VCT ( Voluntary Counseling Test ) dimana VCT ini diperlukan dalam pendeteksian positif atau tidaknya seseorang akan HIV.
Selain itu demi mewujudkan Kota Blitar bebas AIDS, Dinas Kesehatan kembali akan menegakkan fungsi KPA ( Komisi Penanggulangan AIDS ). Rencananya Bulan Oktober nanti, munculnya kembali KPA akan dimulai dengan penguatan lembaga dan diikuti dengan sosisalisasi-sosialisasi yang kali ini sasarannya tidak hanya pelajar namun lebih meluas pada Bidan untuk lebih mematangkan penguasaan para Bidan terhadap pasien yang kemungkinan positif HIV maupun adanya pasien dengan IMS (Infeksi Menular Seksual) sebagai pemicu HIV-AIDS. Hal ini mengingat cukup banyaknya penderita HIV-AIDS yang merupakan ibu hamil dan ibu rumah tangga.
Keseriusan Dinas Kesehatan Kota Blitar diwujudkan dalam program-program yang akan dicanangkan pada tahun 2014 mendatang yaitu mengenai sosialisasi dan upaya pemahaman tehadap Bahaya HIV-AIDS dengan sasaran PNS dan Masyarakat Umum. Karena menurut penuturan dari Ibu Harni, Kabid P2PL Dinas Kesehatan Kota Blitar, bahwa siapapun bisa terjangkit HIV-AIDS, jadi kepahaman terhadap bahaya HIV-AIDS sendiri harus benar-benar dimiliki oleh seluruh kalangan dalam masyarakat Kota Blitar untuk selanjutnya mencegah bertambahnya jumlah korban jiwa akibat HIV-AIDS.

